Saat ini, siapa yang tidak tahu Hari Ibu? Hari
dimana kita memperingati terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami,
anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya
dilakukan dengan membebastugaskan ibu dari tugas sehari-hari yang merupakan
kewajibannya, seperti memasak, merawat anak-anak, dan urusan rumah tangga
lainnya. Tetapi sebelum itu, kita harus megetahui apa arti seorang Ibu yang
sebenarnya. Ibu adalah seseorang yang sudah
melahirkan kita ke dunia ini. Dengan segala beban, perjuangan dan tetes
keringat yang sudah ia keluarkan untuk mengeluarkan bayi dari dalam perutnya.
Tidak ada satu pun yang dapat menggantikan posisi seorang ibu dihati kita, juga
apa yang sudah beliau berikan untuk kita. Namun, kita sebagai anak yang sudah
dilahirkan, dimanjakan, dibesarkan dengan penuh kasih sayang tidak menyadari
apa yang sudah diperjuangkan seorang ibu agar anaknya tumbuh menjadi anak yang
berbakti, menurut setiap perkataan orang tua, taat dengan aturan agama, dan
sukses di masa depan, itulah yang diinginkan oleh seorang ibu. Jika tidak ada
ibu, maka kita tidak akan pernah menjejakkan kaki di dunia ini.
Hari Ibu telah ditetapkan sebagai hari perayaan
nasional, setiap tanggal 22 Desember, seluruh masyarakat Indonesia merayakan
Hari Ibu. Sebuah peringatan terhadap peran seorang perempuan dalam keluarganya,
baik itu sebagai istri untuk suaminya, ibu untuk anak-anaknya, maupun untuk
lingkungan sosialnya.
Disetiap Negara juga memperingati Hari Ibu tetapi
dengan tanggal yang berbeda, contohnya seperti di
sebagian besar Negara di wilayah timur tengah tepatnya di Mesir, Hari ibu telah
ditetapkan dan dirayakan setiap tanggal 21 Maret.
Kini,
Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima
kasih kepada para ibu. Berbagai kegiatan dan hadiah diberikan untuk para
perempuan atau para ibu, seperti memberikan kado istimewa, bunga, aneka lomba
untuk para ibu, atau ada pula yang membebaskan para ibu dari beban kegiatan
sehari-hari.
Menurut
sejarahnya, peringatan Hari Ibu diawali dari berkumpulnya para pejuang
perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dan mengadakan Kongres Perempuan
Indonesia I pada tanggal 22 sampai 25 Desember 1928 di Yogyakarta. Salah satu hasil
dari kongres tersebut adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal
sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Namun penetapan tanggal 22 Desember
sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun
1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari
Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959. Para pejuang perempuan tersebut
berkumpul untuk menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju
kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Para perempuan ini menggarap
berbagai isu tentang persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam
perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek
pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan. Tak hanya itu,
masalah perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini
bagi perempuan, dan masih banyak lagi, juga dibahas dalam kongres itu. Bedanya
dengan jaman sekarang, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis
untuk perkembangan perempuan, tanpa mengusung kesetaraan jender. Penetapan Hari
Ibu ini diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda
Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Selain itu, Hari Ibu
juga merupakan saat dimana kita mengenang semangat dan perjuangan para
perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.
Terlepas dari itu, saat
ini masih ada ibu yang terkadang tidak berpikir dan tidak
memperhatikan serta membimbing anak-anak mereka. Anak adalah amanah yang harus
dijalankan, bukan disia-siakan. Jadi calon seorang ibu harus mengerti akan hal
ini jauh sebelum mereka menjadi seorang ibu. Seperti kata pepatah mengatakan
“Sebuas-buasnya seekor Harimau tidak akan pernah memakan anaknya sendiri”. Tapi
kenyataannya, di kehidupan manusia terkadang kita temukan ada seorang ibu yang
secara tidak sadar telah memakan anaknya sendiri. Percaya atau tidak, hal
tersebut sudah sangat sering terjadi. Contohnya seperti seorang ibu yang selalu
memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Ketika anak mereka bercita-cita menjadi
seorang Guru, tapi ibu mereka malah memaksa anaknya menjadi seorang dokter
karena dia berprofesi sebagai dokter. Kelihatannya hal ini sepele tapi secara
tidak langsung ibu mereka telah memakan semangat hidup dan cita-cita anaknya
sendiri.
Selanjutnya,
bagaimana dalam pandangan islam? Jika kita lihat dalam Islam, tanpa mengenal
hari tertentu pun setiap anak diwajibkan selalu mengistimewakan seorang Ibu.
Mungkin kita tidak pernah menyadari, begitu banyak yang telah dilakukan seorang
Ibu. Ibu mengandung kita selama 9 bulan 10 hari, berjuang melawan rasa sakit
ketika melahirkan, mengesampingkan waktu istirahatnya untuk menyusui, juga
merawat ketika kita sehat apalagi saat sakit, dan banyak lagi hal lainnya yang
mustahil dapat kita hitung dan kita balas seluruh pengorbanannya. Untuk itu,
Islam begitu mengistimewakan seorang Ibu, seperti yang banyak kita temui di
dalam Al-Quran, hadits, dan kisah-kisah teladan. Allah SWT berfirman: “Dan Tuhan-Mu telah memerintahkan supaya
kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada
ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu
membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS al-Isrã’ [17]: 23-24).
Bila
hal itu dijelaskan, maka perayaan Hari Ibu tidak diperbolehkan. Tidak boleh
mengadakan simbol-simbol perayaan seperti kegembiraan, kebahagiaan, penyerahan
hadiah dan lain sebagainya. Seorang muslim wajib memuliakan agamanya dan bangga
dengannya dan hendaknya membatasi diri dengan ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya
dalam agama yang lurus yang telah diridhai Allah untuk hamba-Nya, tidak
ditambah maupun dikurangi. Haknya seorang ibu lebih besar daripada sekedar
disambut sehari dalam setahun. Bahkan seorang ibu mempunyai hak yang harus
dilakukan oleh anak-anaknya, yaitu memelihara dan memperhatikannya serta menta’atinya
dalam hal-hal yang tidak maksiat kepada Allah Azza wa Jalla disetiap waktu dan
tempat.
Hari
ibu seharusnya digunakan untuk mengintropeksi diri masing-masing, baik ibu
maupun anak. Apakah mereka sudah menjalankan perannya dengan baik atau tidak selama
ini. Dan meski secara maknanya peringatan Hari Ibu saat ini kurang
sejalan dengan makna kegiatan perempuan yang dilakukan pada masa perjuangan
dahulu. Tapi itulah kenyataan yang ada, tergantung bagaimana kita
menyikapinya.











