22.12.15

HARI IBU

Saat ini, siapa yang tidak tahu Hari Ibu? Hari dimana kita memperingati terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskan ibu dari tugas sehari-hari yang merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak-anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Tetapi sebelum itu, kita harus megetahui apa arti seorang Ibu yang sebenarnya. Ibu adalah seseorang yang sudah melahirkan kita ke dunia ini. Dengan segala beban, perjuangan dan tetes keringat yang sudah ia keluarkan untuk mengeluarkan bayi dari dalam perutnya. Tidak ada satu pun yang dapat menggantikan posisi seorang ibu dihati kita, juga apa yang sudah beliau berikan untuk kita. Namun, kita sebagai anak yang sudah dilahirkan, dimanjakan, dibesarkan dengan penuh kasih sayang tidak menyadari apa yang sudah diperjuangkan seorang ibu agar anaknya tumbuh menjadi anak yang berbakti, menurut setiap perkataan orang tua, taat dengan aturan agama, dan sukses di masa depan, itulah yang diinginkan oleh seorang ibu. Jika tidak ada ibu, maka kita tidak akan pernah menjejakkan kaki di dunia ini.
Hari Ibu telah ditetapkan sebagai hari perayaan nasional, setiap tanggal 22 Desember, seluruh masyarakat Indonesia merayakan Hari Ibu. Sebuah peringatan terhadap peran seorang perempuan dalam keluarganya, baik itu sebagai istri untuk suaminya, ibu untuk anak-anaknya, maupun untuk lingkungan sosialnya.
Disetiap Negara juga memperingati Hari Ibu tetapi dengan tanggal yang berbeda, contohnya seperti di sebagian besar Negara di wilayah timur tengah tepatnya di Mesir, Hari ibu telah ditetapkan dan dirayakan setiap tanggal 21 Maret.
Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu. Berbagai kegiatan dan hadiah diberikan untuk para perempuan atau para ibu, seperti memberikan kado istimewa, bunga, aneka lomba untuk para ibu, atau ada pula yang membebaskan para ibu dari beban kegiatan sehari-hari. 
Menurut sejarahnya, peringatan Hari Ibu diawali dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 sampai 25 Desember 1928 di Yogyakarta. Salah satu hasil dari kongres tersebut adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Namun penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959. Para pejuang perempuan tersebut berkumpul untuk menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Para perempuan ini menggarap berbagai isu tentang persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan. Tak hanya itu, masalah perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan masih banyak lagi, juga dibahas dalam kongres itu. Bedanya dengan jaman sekarang, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis untuk perkembangan perempuan, tanpa mengusung kesetaraan jender. Penetapan Hari Ibu ini diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Selain itu, Hari Ibu juga merupakan saat dimana kita mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. 

Terlepas dari itu, saat ini masih ada ibu yang terkadang tidak berpikir dan tidak memperhatikan serta membimbing anak-anak mereka. Anak adalah amanah yang harus dijalankan, bukan disia-siakan. Jadi calon seorang ibu harus mengerti akan hal ini jauh sebelum mereka menjadi seorang ibu. Seperti kata pepatah mengatakan “Sebuas-buasnya seekor Harimau tidak akan pernah memakan anaknya sendiri”. Tapi kenyataannya, di kehidupan manusia terkadang kita temukan ada seorang ibu yang secara tidak sadar telah memakan anaknya sendiri. Percaya atau tidak, hal tersebut sudah sangat sering terjadi. Contohnya seperti seorang ibu yang selalu memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Ketika anak mereka bercita-cita menjadi seorang Guru, tapi ibu mereka malah memaksa anaknya menjadi seorang dokter karena dia berprofesi sebagai dokter. Kelihatannya hal ini sepele tapi secara tidak langsung ibu mereka telah memakan semangat hidup dan cita-cita anaknya sendiri.
Selanjutnya, bagaimana dalam pandangan islam? Jika kita lihat dalam Islam, tanpa mengenal hari tertentu pun setiap anak diwajibkan selalu mengistimewakan seorang Ibu. Mungkin kita tidak pernah menyadari, begitu banyak yang telah dilakukan seorang Ibu. Ibu mengandung kita selama 9 bulan 10 hari, berjuang melawan rasa sakit ketika melahirkan, mengesampingkan waktu istirahatnya untuk menyusui, juga merawat ketika kita sehat apalagi saat sakit, dan banyak lagi hal lainnya yang mustahil dapat kita hitung dan kita balas seluruh pengorbanannya. Untuk itu, Islam begitu mengistimewakan seorang Ibu, seperti yang banyak kita temui di dalam Al-Quran, hadits, dan kisah-kisah teladan. Allah SWT berfirman: “Dan Tuhan-Mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS al-Isrã’ [17]: 23-24).
Bila hal itu dijelaskan, maka perayaan Hari Ibu tidak diperbolehkan. Tidak boleh mengadakan simbol-simbol perayaan seperti kegembiraan, kebahagiaan, penyerahan hadiah dan lain sebagainya. Seorang muslim wajib memuliakan agamanya dan bangga dengannya dan hendaknya membatasi diri dengan ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya dalam agama yang lurus yang telah diridhai Allah untuk hamba-Nya, tidak ditambah maupun dikurangi. Haknya seorang ibu lebih besar daripada sekedar disambut sehari dalam setahun. Bahkan seorang ibu mempunyai hak yang harus dilakukan oleh anak-anaknya, yaitu memelihara dan memperhatikannya serta menta’atinya dalam hal-hal yang tidak maksiat kepada Allah Azza wa Jalla disetiap waktu dan tempat. 

Hari ibu seharusnya digunakan untuk mengintropeksi diri masing-masing, baik ibu maupun anak. Apakah mereka sudah menjalankan perannya dengan baik atau tidak selama ini. Dan meski secara maknanya peringatan Hari Ibu saat ini kurang sejalan dengan makna kegiatan perempuan yang dilakukan pada masa perjuangan dahulu. Tapi itulah kenyataan yang ada, tergantung bagaimana kita menyikapinya. 

0 comments: